18 Nov 2007

Minggu ke 4 November


MENUNGGU WAKTU-NYA TUHAN

Seringkali kita menghadapi masalah dengan tergesa-gesa, maunya serba instant. Sekarang berdoa, sekarang juga jawabannya. Tuhan tidak selalu bekerja seperti itu. Adakalanya Dia minta kita menunggu. Ada tiga cara Tuhan menjawab doa: Ya, nanti dan tidak.
Kenapa demikian? Ada saatnya waktu Dia mengijinkan suatu peristiwa terjadi atas hidup kita itu adalah karena Dia mau:
1. Sebagai tegoran / pelurusan dari simpangan. I Korintus 11 : 31-32, "Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita. Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia."
2. Tuhan itu Allah yang cemburu. Apa yang menjadi berhala kita akan diminta-Nya dan itu akan menyakitkan.
3. II Korintus 6 : 18, "Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa." Sebagai anak, Tuhan membentuk kita, mengajar kita, dengan singkat: 'memproses' kita.
Karena itu sangat penting bagi kita untuk sabar menanti kalau Tuhan menghendaki demikian. Yang terpenting adalah melakukan kehendak-Nya.
Tujuan dari kita menanti Tuhan itu adalah supaya kita membuang semua penghalang dan supaya kita tidak bermegah diri, tetapi mengandalkan Tuhan sepenuhnya.

Ada tiga dasar orang yang mengandalkan Tuhan :
1. Percaya pada kuasa dan kekuatan Tuhan (Keluaran 14 : 31: "Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan Tuhan terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada Tuhan dan mereka percaya kepada Tuhan dan kepada Musa, hamba-Nya itu.", II Timotius 1 : 12: "Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.")
2. Percaya pada kasih setia Tuhan (Mazmur 13 : 6: "Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk Tuhan, karena Ia telah berbuat baik kepadaku."
3. Percaya keselamatan dari Tuhan (Yesaya 12 : 2: "Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab Tuhan Allah itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku."

Jadi apa yang perlu kita lakukan selama menunggu?
1. Memuji dan menyembah Tuhan (Mazmur 28 : 7, Mazmur 22 : 4).
2. Bertekun dalam iman (Ibrani 10 : 35-36).
3. Berpegang pada janji Allah (Roma 4 : 20-21, I Raja-raja 8 : 56-58).
4. Berserah sepenuhnya pada Tuhan. "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6 : 27).

Kalau kita bersabar menunggu waktu-Nya Tuhan maka ada tiga hal yang akan kita dapat sebagai 'buah' :
1. Kemakmuran (Amsal 28 : 25, Yeremia 17 : 7-8).
2. Damai sejahtera (Yesaya 26 : 3-4):
- bebas dari rasa takut (Mazmur 27 : 1).
- perlindungan (Mazmur 91 : 1-4).
- keamanan (Mazmur 37 : 4).
3. Kekuatan (Yesaya 30 : 15; 40 : 29-31)

Di dalam Alkitab salah satu contoh terbaik dari orang yang menanti waktu-Nya Tuhan adalah Daud, untuk bisa menjadi orang yang mengandalkan Tuhan marilah kita ikuti teladan Daud. Apa yang Daud lakukan sehingga dia bisa tahu waktu Tuhan telah tiba? Yohanes 15 : 7a: "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu…”. Daud bertekun dalam doa dan membaca firman Tuhan terus-menerus. Hanya dengan cara itu kita bisa mengandalkan Tuhan terus-menerus dan dalam setiap keadaan. (cubs)

Senin, 19 Nopember 2007
GAGAL, GA MASALAH TUH!
Amsal 24 : 16
Pasti kita semua pernah mengalami yang namanya “KEGAGALAN”. Gagal dalam usaha atau pekerjaan, gagal menjalin hubungan dengan pacar, atau gagal yang lainnya. Meskipun kita pernah mengalami kegagalan, tapi kegagalan itu bukanlah akhir dari segalanya. Yang menjadi masalah bagi kita bukanlah mengapa kita dapat gagal tetapi dapatkah kita menjadikan kegagalan itu sebagai batu loncatan untuk menggapai keberhasilan. Orang-orang yang telah sukses sekarang ini, dahulunya mereka adalah orang-orang yang gagal. Tetapi mereka sekarang bisa menjadi orang yang sukses karena mereka dapat menjadikan kegagalan itu sebagai batu loncatan untuk melompat kepada kesuksesan. Waktu kita menghadapi kegagalan, jangan pernah kita putus asa dan menyesali keadaan, tetapi berusahalah untuk bangkit lagi hingga mencapai keberhasilan. Tidak peduli apapun kesalahan yang pernah kita lakukan, kegagalan tidak akan menjadikan kita sebagai seorang pecundang yang selalu dihantui oleh kegagalan. Kita harus bangkit dan menjadikan kegagalan itu sebagai pelajaran untuk melangkah maju. Arahkanlah matamu pada Kristus, di sana kamu akan melihat masa depan yang penuh harapan. (Giant)
Kegagalan adalah tangga-tangga yang kuat untuk menuju keberhasilan.

Selasa, 20 Nopember 2007
TIDAK SESUAI INSTING
Yudas 18-20
Berulang kali Yesus mendesak para pengikut-Nya untuk melakukan apa yang dinyatakan benar oleh Allah, bukan yang diperintahkan oleh hasrat, insting dan intuisi. Hasrat berkata, “Saya menginginkannya.” Yesus berkata, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20 : 35). Insting berkata, “Sayalah yang utama.” Yesus berkata, “Orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.” (Matius 20 : 16). Intuisi berkata, “Perasaan saya akan menjadi lebih baik jika saya membalas dendam.” Yesus berkata, ”Berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu.” (Lukas 6 : 27). Menginginkan sesuatu tidak membuat hal itu menjadi baik. Memperoleh sesuatu tidak menjadikan hal itu berharga. Memiliki perasaan yang kuat tentang sesuatu tidak menjadikannya benar. Seperti yang ditulis Yudas, mereka yang menuruti hasrat dan insting mereka sendiri akan mengantarkan sesama menuju konflik dan perpecahan (ayat 18, 19). (DBR)
Kebenaran adalah yang sesuai dengan firman Tuhan, bukan insting.

Rabu, 21 Nopember 2007
BUKAN YANG DI LUAR
I Samuel 16 : 7
Pernahkah kita berpikir, mengapa banyak orang yang penampilan luarnya tidak baik tetapi disenangi oleh orang-orang di sekitarnya, bahkan melebihi mereka yang berpenampilan jauh lebih baik? Mengapa Tuhan berulang kali lebih memilih menolong Zakheus, perempuan Samaria, orang-orang berdosa dari pada orang Farisi, ahli Taurat? Padahal dari sisi pandang manusia, orang Farisi, ahli Taurat adalah orang-orang yang jauh lebih santun, lebih baik dari orang-orang berdosa itu. Tuhan melihat dengan sudut pandang yang sangat berbeda dari kita. Dia tidak melihat penampilan luar kita. Dia melihat hati kita, ketulusan kita. Jadi kalau orang dari luar menilai kita baik, hati-hati, apakah hati kita juga baik? Apakah hati kita juga dinilai oleh Tuhan baik? Karena pada akhirnya, ingatlah bahwa yang berlaku adalah penilaian Tuhan, bukan manusia. (cubs)
Manusia menilai dari penampilan luar, Yesus menilai apa yang di hati kita.

Kamis, 22 Nopember 2007
RAJAWALI
yesaya 40 : 31
Tahukah Anda bagaimana caranya burung rajawali mengajari anaknya untuk terbang? Ia membawa anaknya ke atas puncak gunung yang tinggi. Setelah sampai di puncak yang paling tinggi sang induk mendorong anaknya. Sang anak dibiarkan untuk berusaha mengepakkan sayapnya. Bila dirasanya anaknya tidak sanggup maka ia menangkap anaknya itu dan membawa lagi ke puncak gunung. Setelah sampai di puncak ia menjatuhkan anaknya lagi. Sang induk melakukan hal itu berulang-ulang kali hingga anaknya bisa terbang. Kita seperti anak burung rajawali tersebut. Tuhan senantiasa mengajari kita untuk menjadi manusia yang kuat. Ia mengijinkan pencobaan datang ke dalam hidup kita agar kita semakin hari semakin kuat di dalam Dia. Ketika kita tidak sanggup dengan masalah kita maka Ia akan mengulurkan tangan-Nya untuk menopang kita. Ia akan memberikan kekuatan yang baru bagi kita sehingga kita dapat terbang tinggi mengatasi masalah hidup kita. Jadi janganlah menyerah, marilah kita berusaha terus hingga kita dapat terbang bersama Tuhan. (Giant)
Kita adalah rajawali-Nya Tuhan yang masih perlu belajar terbang tinggi.

Jumat, 23 Nopember 2007
KETIDAKTAATAN
Pengkhotbah 8 : 2-8
Entah kenapa, manusia suka sekali melanggar peraturan, bahkan sampai ada istilah, ”Peraturan memang dibuat untuk dilanggar.” Contohnya, orang suka melanggar peraturan lalu-lintas tanpa merasa bersalah; di jalan kita sering melihat bus umum menaikkan atau menurunkan penumpang seenaknya, padahal jelas-jelas ada tanda ’dilarang berhenti’; orang membuang sampah di mana saja, padahal telah disediakan tempat sampah dan ada tanda untuk ’tidak membuang sampah sembarangan’. ”Ketidaktaatan”, itulah dosa pertama manusia, ketika Adam dan Hawa melanggar peraturan (firman) Tuhan. Dan dosa itu diturunkan sampai sekarang, padahal seharusnya kita tahu bahwa setiap pelanggaran ada hukumannya, terlebih bila kita melanggar peraturan Tuhan.
Sebelum bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan, Musa berkata kepada mereka, ”Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh Tuhan, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.” (Ulangan 30 : 15-16). Tetapi betapa seringnya bangsa Israel melanggar peraturan, sampai akhirnya mereka dibuang ke Babel. Firman Tuhan hari ini berkata, ”Siapa yang mematuhi perintah tidak akan mengalami perkara yang mencelakakan, dan hati orang berhikmat mengetahui waktu pengadilan, karena untuk segala sesuatu ada waktu pengadilan, dan kejahatan manusia menekan dirinya.” (ayat 5-6). Bila kita melanggar peraturan dunia, seringkali kita masih bisa berkelit dan lepas dari hukuman. Bila kita melanggar peraturan Tuhan, kita tidak bisa lari dari hukuman Tuhan. Memang firman Tuhan berkata, ”Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (I Yohanes 1 : 9), tetapi ingatlah, setiap pelanggaran pasti ada hukumannya. Jangan kita menyalahgunakan kasih karunia Tuhan untuk selalu melanggar peraturan-Nya. Mari kita belajar untuk menjadi anak-anak Tuhan yang taat kepada perintah dan peraturan Bapa. (Ginny)
Peraturan diberikan untuk ditaati, bukan untuk dilanggar. Tidak taat = dosa.

Sabtu, 24 Nopember 2007
CURANG
Yesaya 61 : 7-8
Seorang pemuda yang ingin menikmati betapa enaknya berada di atas sebuah pohon nekat memanjat sebuah pohon kelapa. Waktu ia memanjat dan mencapai pucuk pohon kelapa, dia belum takut. Saat ia melihat ke bawah, kengerian menyelimuti perasaannya. Apalagi disertai dengan tiupan angin yang menggoyang batang pohon kelapa, seakan jantungnya mau copot. Dalam ketakutannya ia berdoa, “Tuhan, kalau saja Tuhan mau membantu saya agar tidak jatuh ketika saya turun, saya akan memberikan semua harta saya kepada Tuhan.” Dengan perlahan, iapun turun. Ketika tinggal dua meter lagi sebelum mencapai tanah, iapun melepaskan pegangannya pada batang pohon dan terjatuh. Ia lalu berkata, “Kalau begitu saya tidak jadi memberikan harta saya, Tuhan, habis saya terjatuh ketika turun.” Tidak jarang kita berperilaku sama seperti pemuda itu. Pada saat menghadapi tantangan yang mengancam keselamatan jiwa kita, seringkali dengan tidak berpikir panjang apakah hal itu dapat dilakukan atau tidak, terucap janji-janji yang muluk-muluk yang pada akhirnya kita langgar sendiri. Jangan buru-buru berjanji kalau tidak sanggup untuk menepatinya karena dengan demikian kita telah mencurangi Tuhan. Hendaklah kita selalu sadar bahwa Tuhan membalas orang-orang yang berlaku curang kepada-Nya. (DBR)
Tuhan tidak senang dicurangi. Kalau bernazar tepatilah secepat mungkin.

Minggu, 25 Nopember 2007
PROSES TUHAN
Yeremia 18 : 3-6
Sama seperti halnya seorang tukang emas atau penjunan membuat karyanya, yang untuk mencapai keindahan sempurna, membutuhkan kesabaran dan waktu yang lama serta proses yang teratur, Tuhan juga butuh kesabaran kita untuk melalui setiap tahapan dan waktu yang dibutuhkan supaya kita bisa kembali menjadi ciptaan-Nya yang indah. Waktu mula-mula Tuhan menciptakan kita, kita sangat indah, tetapi karena dosa, kita menjadi ciptaan yang rusak. Untuk mengembalikan kita seperti semula, dibutuhkan proses yang tidak sebentar karena kerusakan kita parah sekali. Tuhan memproses kita lewat pengalaman-pengalaman dalam hidup kita. Baik itu pengalaman indah, menyenangkan, maupun pengalaman buruk dan menyedihkan. Asal kita menurut saja, maka pada waktu-Nya Tuhan kita akan kembali menjadi ciptaan indah. Memang sewaktu kita menjalani proses itu tidak enak, dan mungkin terasa lama sekali, tetapi bertahanlah karena besar upahnya. (cubs)
Bertahanlah dan belajarlah selama menjalani proses Tuhan. Jangan menyerah!

No comments: